Novel online

Silakan Baca Cerita-cerita yang saya sajikan di blog saya..silakan menikmatinya...

Bab II : BOBI dan Monda

Kafe-restro pinggir pantai. Beratapkan langit Jakarta yang cerah. Cewek hitam manis menempati meja di bagian pojok kafe yang di lindungi pohon palem berhiaskan lampu-lampu kecil. Ia menikmati alunan lembut musik kafe beserta debur ombak dan sepoi angin menjelang senja.
Waiter menghampiri dengan daftar menu.
“Lime juice,ya , mas!” pinta si Cewek hitam manis.
“Lainnya, mbak?”
“Nanti aja. Lagi nungguin musuh saya nich, di meja ini!”
Waiter berlalu.
“Eh eh, eh Mas!”
Waiter menoleh.”Apa lagi, Mbak!”
“French Fries-nya dunk!” sebel kan nungguin pacar, eh musuh! Mendingan gue ditemenin kentang goreng dulu.
Lima belas menit berlalu. Cewek hitam manis itu sudah menghabiskan setengah porsi kentang goreng. Mulutnya terus asik mengunyah sambil mengumpat 'musuhnya' yang tak kunjung datang.
“Kura juga lo, ya , Bob! Ngaret nggak kira-kira! Gue nungguin elo sampai kisut begini tau!” Cewek manis itu hanya bisa memaki dalam hati, karena seisi mulutnya dipenuhi kentang goreng. Setengah jam berlalu.
Sepuluh menit kemudian.
“BOB, YA AMPYUUNNN.......!!!!!!!!!”
“Kenapa...,Mon?” Lelaki ABG mengenakan jeans babel dan kaos santai seadanya, muncul di hadapan si Cewek Hitam Manis.
“Ada dua hal yang harus elo jawab dan elo pertanggungjawabin ke gue, sekarang juga!”
“Apa sih.., Cayang...!”
“Pertama, elo tuh kalo ngaret bilang-bilang dunk, dan jangan ampe kelewatan kayak gini, ngerti!”
“Okeh. Tapi, perasaan gua nggak ngaret, Mon?”
“Apa lo bilang..., Bob? Kita sepakat ketemuan jam lima lewat, inget? Sekarang udah jam berapa, nih? Ganteng banget sih lo!”
“Iya...Cayang...,gua kan dateng jam lima lewat empat puluh plus lima menitan kita ngobrol! Masih jam lima lewat, kan...? So, gue nggak telat dunk...,cayang...!”
“Liiihhhhhhh...elo...tuh ya...!!!!”
“Okeh. Terus apa lahi?”
“Oh, Honey, kepala elo tuh!”
“O..., kepala gua ya. Tau nih, semalam, gua mimpi dibotakin tentara Jepang satu truk, eh pagi-paginya kepala gua jadi seksi kayak gini, deh!”
“Duh, rembut lo dikemanain sih, Bob? Elo dah bosan dan frustasi ya, punya pacar kayak gue? Ngaku!!”
“Nggak kok, Mon...!”
“Bohong! Bob, kalo dah bosan sama gue, terus cari gebetan baru, nggak usah gini, deh! Gue rela, nggak perlu tuh kepala elo botakin kayak tuyul gituh!” Beberapa kepala di kafe-resto pinggir pantai timur ancol itu menoleh ke arah sepasang ABG yang lagi serius olahraga adu mulut: Bobi dan Monda.
Setelah membulatkan tekad, berkaitan dengan apa yang harus dia lakukan dalam menjawab mimpi aneh yang dialaminya, Bobi merasa perlu memberitahukan ini kepada seorang yang memiliki tempat khusus dihatinya. Ya seorang itu, Monda.
Waiter kembali menghampiri
“Pesan apa, Mas?”
“Engngngg..., Anu, BANDREK aja, Mas!” Dengan yakin Bobi memesan minuman favoritnya.
“wah, Ngak ada Mas!”
“Oh, kalo gitu SEKUTENG aja deh, ada?”
“Maaf, nggak ada juga. Mas yang lain?”
payah, masa kafe nggak ada bandrek sama sekuteng?
“Ya udah, saya pesan BAJIGUR!”
Waiter menggeleng dan tersenyum agak mengejek.
“CENDOL juga nggak apa-apa kok, Mas!”
Monda menginjak kaki Bobi di bawah meja. Dasar udik, di kafe mana ada minuman begituan!
Bobi berusaha sekuat tenaga menangkap isyarat Monda: slelera minuman lo kelewat tradisional, udah kadarluarsa, BOTAK!
“Okeh, kalo minuman fave gua pada nggak ada, gua coba minuman fave engkong gua!” bisik Bobi kepada Moda.
Waiter mulai tak sabar.
“Jack Daniels, ada, Mas?”
“wah, maaf Mas...”
Bobi segera memotong, “Okeh, kalo nggak ada, vodka!”
“wah, maaf Mas...”
Bobi kembali memotong, “Ya udah, red wine ajah!”
“Wah,”
“Hah, nggak ada juga? Okeh, Shiraz, amarone , atau Martinim kek! Punya nggak nih kafe?”
“waduh, Mas...,”
“Masa semua minuman selera engkong gua nggak ada, sih?! Long Island Ice Tea, ada nggak?!” Bobi rada sewot.
“Anu, Mas, disini nggak melayani minuman beralkohol. Minuman yang kami sediakan khusus soft drink, aneka juice, aneka kopi, dan teeh.”
“Okeh, gua minta JUS JAHE aja kalo gitu!”
“....????????”
Untuk menyederhanakan masalah, Monda mengambil alih, “Udah Mas, bawain aja nih tuyul Lime Squash!”
“Makanannya...apa ya...,” gumam Bobi sambil mengelus-elus kepala botaknya.
“Wah, maaf, Mas. Disini nggak menyediakan gado-gado, ketoprak, pecel,karedok, asinan, rujak, kangkung, dan sejenisnya!” Sang Waiter dengan sigap memotong kata-kata Bobi.
“Gua juga kagak norak-norak banget, Mas..., gua cuma mau pesan TAHU GEJROT, ada? Yang Asli Cirebon, ya! Kalo nggak ada PEYEUM BANDUNG aja, atau...MENDOAN juga boleh!”
“Bobi, udik banget sih elo!”
“Bercanda Mon, maksud gua...Tuna melt Sandwich!”
Akhirnya Monda menarik nafas lega, cowoknya kenal juga salah satu makanan yang pakai bahasa bule.
“Maaf,mas, kebetulan menu yang itu habis,laris manis...,hehe!” Waiter jadi serba salah.
“wah, maaf Mas...”
“Gimana sih, nih kafe? Si Mas sentimen ya, sama saya?! Ya udah, saya pesen ROTI CANE ISI UBUR-UBUR, masa nngak ada?!” pinta Bobi dengan sewot.
“Maaf, rotinya sih ada, tapi persediaan ubur-uburnyaabis mas! Gimana, mau rotinya aja?”
“AAARRRRRRRGGGGGHHHHH...!!!! Terserah Mas deh, yang penting asal jangan nasi putih doang sama sop buntut kadal!”
“Nah, Mas kok tahu! Memang cuma itu, menu utama yang masih tersedia: Nasi putih dengan sop Buntut Komodo!”
“AAARRRRRRRGGGGGHHHHH...Sambel Lontong!!!!!!!!!”
“Udah mas, bawain aja apa yang ada!” Sergah Monda.
Bobi menggonggong, waiter berlalu.
“Okeh, sekarang kita bahas lagi soal kepala elo yang botak!” Monda membuka percakapan setelah Bobi menyikat ludes makanannya.
“Adem...,”Bobi mengelus kepala botaknya yang isapu angin pantai, tanpa memerhatikan Monda.
“Bob! Elo dengerin gue ngomong donk!”
“I..., iya, iya, Mon , kenapa...?!” Bobi balik bertanya sambil tetap mengelus kepala botaknya, sambil sesekali matanya nakal melirik segerombolan cewek-cewek ABG, yang duduk di seberang meja mereka.
“BOBI....!!!! DasarBotak!!!!” Monda ngeloyor pergi meninggalkan Bobi yang asyik main mata dengan cewek-cewek ABG.
Senja sudah berlalu.
“Eh, Mon, mau kemana?! Ini makanan siapa yang bayar, duit gua kagak cukup neeh!” waiter menghampiri Bobi, dan menyodorkan tagihaan dengan wajah dingin. Bobi mengawasi sekitarsambil berdoa semoga pemilik kafe-resto ini tidak menyewa preman-preman ancol!.
“Mon...!Tunggu!” Bobi mengejar Monda setelah berhasil meyakinkan pemilik kafe-resto bahwa dompetnya terbawa aloeh Monda. Sebagai jaminan, kartu mahasiswanya yang nyaris tidak pernah ia ketahui dimana kesaktiannya, disita!.
“Diem Bob! Gue lagi pingin sendiri!”
“Iya, iya, Mon! Elo mau sendirian atau berenang ke laut juga nggak apa-apa....!!!. Tapi tolong, dunk , gua pinjam duit elo, lima puluh ribu saja, buat bayar makanan kita. Please...,entar gua ganti deh... kapan-kapan...kalo ingat...!”
Dari kejauhan, empat pasang mata yang disinyalir sebagai preman-preman ancol, terus mengawasi Bobi.
“Huh, udah botak, boke'!” Monda menyodorkan uang lima puluh ribuan.
“Mmmuachchhh, seep, deh! Sekarang elo boleh sendirian lagi, Mon, atau elo ke laut aja, deh, sekalian! Gue mau sama cewek-cewek ABG tadi ya, hehe!”
“BOTAAAAAK....!!!!!!!!”
“I am a skin-head bachelor...!” Bobi meninggalkan Monda yang masih melipat tujuh ratus tujuh puluh tujuh raut mukanya.


“Bob...,” Monda memeluk dari belakang tubuh Bobi yang melelaki.
“Masih suka, sama cowok botak...?” Bobi asyik memandangi tepian pantai yang kini menghitam. Debur ombak dan buaian angin menentramkan hatinya.
“Aaahh...,Bobi! Jangan bercanda terus, gue pingin serius, neeh! Pengen suasana yang romantis...!”
“Elo langsung dari Bali?” Bobi memencet hidung Monda.
“Yup, sengaja gue langsung ketemu elo, Bob! Kangen gue! Gue kangen sama cowok gue, Bobi, yang keren kayak Tora Sudiro. Eh, tapi malah jin Botak yang gue temuin, huh!” jawab Monda dengan suara menedengung karena Bobi belum juga melepaskan tanganya dari hidung Monda.
“Mon, apa yang elo cari dari cowok kayak gua?” Pertanyaan yang baru sempat ditanyakan Bobi, setelah begitu lama mereka saling kenal.
“Ya, banyak sekali! Tapi, ngapain sih lo pake nanya kayak gitu segala?”
“Udah, jawab saja!”
“Errrr...., protection...,”
“Lanjut!” Bagus, elo kira gua HANSIP pribadi lo ya, Mon?
“Pleasure...,”
“Lanjut!” Good, emang udah gua kira sebelumnya kalo gua punya bakat khusus jadi GIGOLO!
“Affection...,”
“Tarik, Pir!”
“Charming...,”
“Tancep terus!”
“Elo melelaki, so handsome for me, meski sekarang elo botak kayak TUYUL ANCOL!”
“STOP!”
“Ihh...,entar, masih banyak lagi!”
“Oh? Oke deh..., Ambil kiri, Pir!”
“HUG & KISS!”
“Masih ada lagi?”
“PENETRASI!”
“HAH?????”
“Satu kali lagi, please...!”
“Cukup, cukup Mon!” Bobi menutup telinganya.
“CiINTAAH...!” Monda menyingkirkan tangan Bobi yang berlagak menutup telinga. Ia membisikan kata itu dengan lembut, dengan desah. Sepenyh rasa.
“STOP! Kiri, Pir! Pfffiuuuuuuhhhhh, akhirnya, selesai juga!”
“Elo, sendiri Bob, kenapa elo jatuh cinta ke gue? Why honey?!”
“Hemmm...?”
“Ahhhhh..., Bobi! Jawab, why-do-you-love-me?!”
“Ye..., siapa juga falling in love ama elo!” Bobi cengegesan.
“Bobi!” Monda mencubit sekuat tenaga perut Bobi.
“Emang bener, kok, gua belum ada rasa kayak begonoh. I just like you. Selebihnya...,” Bobi berlagak serius.
“Oke, Baik. Now answer my urgent question!”
“Pertanyaan apaan, bukannya ujian akhir semester sudah lewat!”
“Kenapa elo suka sama gue?!”
“Yakin, elo pengen tau?”
“Yakin!”
“Bener, elo yakin? Nggak bakal ngambek?”
“Yakin! Gue nggak pernah seyakin ini sebelumnya. Tapi kalau soal ngambek, itu urusan belakangan. Cepetan, Ngomong!”
“Elo, mau gua bohong, atau berkata apa adanya?”
“Jujur, Botak!”
“Gua suka sama elo karena...”
“Apaan?!”
“Buanyak!”
“Iya, sebutin!”
“Karena rambut lu yang di-rebonding, hehe!”
“Nggak lucu!”
“Karena wangi tubuh elo, yang bikin gua nempel kayak perangko!”
“Jangan bercanda, gue serius!”
“Karena bibir lu yang seksi dan merah basyahh...!”
“Terus!”
“Coz your breasts...”
“Terusin!!”
“Karena ciuman elo yang liar.” Bobi mengungkapkannya , dengan pose sok menerawang.
“Terusin!!!”
“Coz pantat elo yang gede!!!!”
“TERUSIN..!!!!!!”
“You are like CHILI...,SO HOT!!!!!”
“Oh gitu ya, Bob? Jadi elo selama ini cuma jadiin gue pemuas libido lo ja?!” Monda mulai terisak. Air mata hangat menggenang di wajahnya.
“Pssst..., masih ada lagi!”
“Jadi, selama ini, elo cuma anggap gue perempuan Lenjeh yang gampang elo tidurin, Bob?!” Monda nangis sesenggukan.
“Psst..., entar dulu, gua belom selesai!”
“Buat gue udah selesai! Lo cuma mau nyakitin gue!”
“Monda....”
“Elo, elo, elo adalah senandung lirih yang dilantunkan abang gue, Bang Iwan False.”
Monda hanya diam. Menahan tangisnya. Menutup wajahnya. Membelakangi Bobi.
“Elo, elo perempuan terindah yang pernah mencintai gua!”
Cewek hitam manis itu masih diam. Ia masih terisak.
“Elo, elo perempuan tercantik, yang pernah gua lumat bibir indahnya.”
“BOONG!!!!”
“Elo, elo perempuan paling istimewa yang pernah memeluk hati gua, Mon!”
Monda diam. Ia mendengarkan semua itu. Ia menikmatinya.
“Elo, elo wanita terbaik yang sayang sama gua..!”
She feels so comfortable.
“Elo, elo seperti senandungkan abang gua yang nomer dua, Bang Duta Sheila On 7 : Elo anugerah terindah yang pernah gua miliki.., Mon!”
“Bob..gue sayang elo-biar pun elo sekarang botak. Jangan kecewain gue, ya...!” Monda membenamkan wajahnya di bahu Bobi. Luruh dalam haru-birunya nuansa.
Ppffffffffffiiiiiiiuuuuuuuffff......., dasar CUEWWEK!!! Bobi masih sempat menggerutu.


Malam terus merayapi bibir pantai.
“Pulang, yuks, Bob! Udah malem banget nich, takut ditangkep jin Ancol!” Monda mengecup kepala botak Bobi.
“entar dolo, Mon, gua masih pengen menikmati semua ini. Malam, hembusan angin, debur ombak, bau laut. Dengerin bunyi yang khas ini, Mon, Bunyi ombak saling berkejaran menghampiri bibir pantai. Bunyi yang Khas. Bunyi yang paling gua suka. Bunyi yang damai. Bunyi yang sanggup menentramkan gua, Mon!” Bobi berkata dengan lirih dan melankolis.
Udah baca puisinya, Bob? Monda nyeluntuk dalam hati.
“Ehmm..., iya, Bob, damai, tentram. Tapi bakal lebih damai lagi kalau kita cepat pulang. Sebelum bokap gue menghubungi 911 dan ngundang tim buser, dikarenakan Monica Juanda, anak gadisnya yang paling cantik, baik hati, dan tidak sombong, diculik oleh seorang pemuda nggak jelas, dengan ciri-ciri kepala botak mirip JIN IFRIT!”
“Hemmhhh..., ya, udah , yuk, kita cabut!”
“Eh, entar dulu, katanya tadi elo pengen ngomongin sesuatu yang penting ke gue? Apaan sih?”
“Nanti aja, deh, gua ceritain, waktunya nggak cukup panjang. Seperti kata lu, udah malem banget, nich. Gue nggak mau jadi headline utama besok di Pos kota gara-gara dituduh ngebawa kabur anak orang!”
“Tapi gue jadi penasaran, Bob!. Apa sih? Apa ini menyangkut hubungan kita? Apa lo...udah....”
“Jangan mikir yang macem-macem dulu.Besok elo ada waktu, nggak? Ke rumah gua, ya? Semuanya bakal gua ceritain ke elo, buat elo, demi elo, Mon! Suerrrr!”
Monda mengganguk. Tersenyum. Keduanya saling berangkulan erat, sebelum meninggalkan kawasan pantai timur Ancol..


Bersambung ke Bab III

0 komentar:

Label

Pengikut

Total Pengunjung